Kemummuhamadiyahan

Posted: Januari 17, 2013 in materi ajar

TUGAS PRESENTASI KEMUHAMMADIYAHAN

KELOMPOK 4

 Image

DISUSUN OLEH:

FYTRIYANTO WB                          A410090125

NILA KURNIAWATI                       A4100901

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

PROGDI MATEMATIKA

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

2010

E. Proses Berdirinya Muhammadiyah

Setelah mencermati empat realitas yang telah di bahas di bab sebelumnya, Ahmad Dahlan mempersiapkan beberapa hal untuk mendeklarasikan Muhammadiyah, Sebagai tahapan Ahmad Dahlan belajar tentang manajemen organisasi  dengan Budi Utomo yang telah memiliki pengalaman. Kontak pertama dengan Budi Utomo melalui Djojosumarto. Ahmad Dahlan menyampaikan maksudnya untuk bertemu dengan dr. Walidin dan dr. Sutomo sekaligus bergabung dengan perkumpulannya. Akhirnya Ahmad Dahlan diterima dan bias begabung dengan Budi Utomo dan sekaligus dijadikan sebagai penasihat untuk masalah-masalah agama.

Kedudukan Ahmad Dahlan di Budi Utomo ini menurut Sjoejda’ dimanfatkan untuk belajar tentang dua hal. Pertama, belajar ilmu organisasi dan kedua, sebagai sarana aktualisasi ajaran islam. Ahmad dahjlan berkeyakinan bahwau untuk mendirikan Muhammadiyah diperlukan manajemen organisasi yang baik yang diilhami dari Al-Qur’an surat Ali ‘Imron /3:104.

Sarana kedua adalah melakukan sosialisasi ajaran islam untuk memperoleh ruang gerak yang luas, setidaknya pada dua unsur yang mempengaruhi perubahan masyarakat dan Negara. Sosialisasi ini diterima para cendekiawan Budi Utomo yang sebelumnya takut dengan Islam. Bahkan guru Kweekschool menyarankan untuk menularkan kepada siswa-siswanya. Penerimaan ini tidak bisa dilepaskan dari penguasaan dan kedalaman ilmu keislaman serta metodologi baru. Melihat metodologi dalam menyampaikan ajaran islam, Ahmad Dahlan diperkenankan mengajar islam kepada siswa kweekschool dengan metode baru dan waktunya setiap Sabtu sore dan dilanjutkan pada Ahad pagi di rumah Ahmad Dahlan.

Pada tahun 1911, Ahmad Dahlan mendirikan sekolah rakyat, yang diberi nama Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah, yang menggabungkan dua system, yaitu pesantren dan system pendidikan barat/ilmu pengetahuan umum. Pemberian pengetahuan umum bertujuan untuk memajukan dan mencerahkan masyarakat islam Indonesia tentang pentingnya ilmu-ilmu modern. Dengan memadukan dua system pendidikan yang berkembang waktu itu, Ahmad Dahlan berharap bisa mencairkan pembagian masyarakat yang selama ini terpilah secara dikotomis, misalnya masyarakat abangan dan santri. Maka melalui lembaga pendidikan ini diharapkan melahirkan individu dengan basis keilmuan islam mendalam dan baPsis keilmuan modern.

Jumlah murid pertama di Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah hanya 9 orang, itu saja dari keluarga sendiri. Dalam tempo setengah tahun jumlah murid menjadi 20 terdiri dari putra putri. Memasuki bulan ke tujuh, sekolah tersebut mendapatkan bantuan bantuan guru, bernama Khail dan Budi Utomo yang bertugas sementara.

Model sekolah ini mendapatkan reaksi minor dari masyarakat sekitar karena dianggap menyimpang dari pakem, bahkan menyimpang dari ajaran islam yang selama ini berkembang di kalangan orang muslim. Reaksi ini juga datang dari keluarga sendiri dengan memboikot hubungan prdagangan yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi Ahmad Dahlan. Reaksi ini bukan pertama terjadi, sebab peristiwa kiblat Masjid Besar Kauman, shaf tempat shalat, pembongkaran surau-surau dan lain-lain.

Setiap ahad pagi, setelah memberikan pengajian umum, Ahmad Dahlan didatangi para siswa Kweekchool Jetis yang dididiknya sabtu sore yang memiliki latar belakang agama berbeda-beda. Moment inilah yang tepat untuk menyampaikan gagasan-gagasan islam yang dapat diterima akal pikiran karena mereka terbiasa berbicara secara rasional. Suatu kali dalam salah satu pengajian ahad pagi Ahmad Dahlan ditanya oleh salah satu peserta pengajian tentang tiga hal. Pertama apakah tempat pengajian ini adalah sekolahan? Ahmad dahlan menjawab: “O, nak ini Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah untuk memberikan pelajaran agama islam dan ilmu pengetahuan umum bagi anak-anak kauman”. Kedua, siapa yang memegang dan menjadi guru yang mengajar disini? Dahlan menjawab: ya saya sendiri. Ketiga, apakah lebih baik sekolah ini tidak dipegang oleh kyai sendiri? Sebab setiap tahun murid akan bertambah dann akan menyulitkan kyai sendiri. Bahkan jika kyai wafat dan keluarga keluarga tidak bisa melanjutkannya maka sekolah ini akan bubar. Mendengar pendapat itu Ahmad dahlan berinisiatif untuk mendirikan sebuah organisasi supaya dapat bertahn selamanya.

Setelah selesai pengajian dibenak Ahmad Dahlan terpikir apa yang diusulkan peserta pengajian. Namun untuk mewujudkannya butuh sumber daya manusia maka Ahmad dahlan melakukan 5 langkah sebagi sarana untuk mewujudkan organisasi.

Langkah pertama, Ahmad Dahlan menemui dan berdiskusi dengan budihardjo dan R. Dwijosewojo. Ini dilakukan setelah mengadakan perundingan dengan para santrinya yang menyetujui berdirinya persyarikatan dengan melibatkan juga sumber daya manusia dari kalangan cendekiawan. Dari pembicaraan dengan kedua guru da Budi Utimio dihasilkan :

Siswa kweechool tidak boleh duduk dalam pengurus karena dilarang dilarang oleh inspektur kepala sekolah.

Calon pengurus diambil dari orang yang sudah dewasa.

Apakah nama perkumppulan tersebut?

Tujuan (belum ada)

Tempat perkumpulan Yogyakarta.

Untuk merealisasikan budi utomo mengajukan syarat dimintakan persetujuan dari 7 anggota baru.

Langkah kedua, Ahmad Dahlan mengadakan pertemuan dengan orang-orang dekat untuk membahas nama, maksud dan tujuan serta tawaran siapa yang bersedia menjadi anggota. Maka dihasilkan namanya adalh “Muhammadiyah” diambil dari nama nabiyullah, Muhammad SAW dengan mendabat tambahan “ya” nisbah. Maksudnya secara perseorangan, siapa sdaja yang menjadi warga dan anggota Muhammadiyah dapat menyesuaikan diri dengan pribadi Nabi Muhammadi SAW dan ber-tafaul. Tujuan orang yang bersedia menjadi anggota Budi Utomo, untuk mengusahakan berdirinya muhammadiyah kepada pemerintah Hindia Belanda, adalah H. Sarkowi, H. Abdul ghani, HM. Sjoedja, HM. Hisyam, HM. Fachruddin, HM. Tammimy dan KH. Ahmad Dahlan.

Langkah ketiga, Ahmad Dahlan dan keenam anggotabaru Budi Utomo mengajukan permohonan kepada Hoofdbestuur Budi Utomo supaya mengusulkan berdirinya Muhammadiyah kepada pemerintah Hindia-Belanda. Pada 18 November 1912 bertepatan dengan tanggal 8 dzulhijjah 1330 Hijriyah permintaan dikabulkan pengambilan waktu ditentukan dari musyawarah dan salat istikharah. Setelah menerima permohonan dilanjutkan dengan meminta pertimbangan dan advis 4 penguasa lembaga terkait, yaitu residen (gubernur) Yogyakarta; Sri sultan Hamengkubuwono ke VII; Pepatih Dalem Sri sultan Hamengkubuwono ke VII; dan hoodfd (ketua) penghulu haji Muhammad Kholil Kamaluddiningrat. Namun dalam rapat itu ada seorang yang tidak setuju yaitu  ketua penghulu yang penyebab utamanya adalah masalah pribadi antara ketua penghulu dengan Ahmad Dahlan tentang peristiwa kontra aksi kiblat dan shaf Masjid Besar Kauman Yogyakarta. Dan yang kedua adalah masalah pemahaman istilah presiden yang oleh Ahmad Dahlan biasa digunakan untuk menyebut ketua sedangkan oleh MH. Kholil Kamaluddiningrat istilah tersebut disamakan dengan residen yang artinya kepala pemerintahan.,

Setelah menolak, penghulu menyerahkan hasil penolakan rapat ke lembaga atasnya namun  Pepatih Dalem Sri sultan Hamengkubuwono ke VII melihat positif kehadiran Muhammadiyah di tengah masyarakat bahkan dapat membantu tugas prenghulu dalam mengajarkan dan mendakwahkan ajaran islam. Setelah menerima surat permohonan dari Ahmad Dahlan dan meneruskannya ke Sri Sultan dan sri sultan memerintahkan gubernur jendral untuk disampaikan ke Hoofdbestur Budi Utomo dan diserahkan ke Ahmad Dahlan.

Susunan pengurus yang tercantum dalam surat izin.

Presiden/Ketua                        : K.H Ahmad Dahlan

Sekretaris                    : H.abdullah Siradj

Anggota                      : H.Ahmad

: H.Abdur Rahman

: H.Muhammad

: RH.Djailani

: H.Anies

: H.Muhammad Fakih

Langkah keempat, Ahmad dahlan mengadakan rapat pengurus pertama kali untuk mempersiapkan proklamasi berdirinya Muhammadiyah, yang hasilnya ialah:

Proklamasi bersifat terbuka untuk masyarakat umum.

Tempat diputuskan di gedungpertemuan Loodge Gebuw yang terletak di jantung kota Yogyakarta(malioboro)

Waktu malam minggu terakhir bulan Desember 1912.

Langkah kelima, memproklamirkan berdirinya Muhammadiyah dihadiri oleh masyarakar umum dan Sri SSultan serta pejabat lain yang di undang, yang susunan acaranya :

Sambutan pembukaan (Ahmad Dahlan) dengan membaca ayat Al Qur’an da Al Fatikhah.

Pembacaan surat izin sebagai legalitas.

Penutup dengan doa, sebagai kata akhir Ahmad Dahlan membacakan surat Al Fatikhah.

F. Tujuan Muhammadiyah dan Perkembangannya

Sejak didirikan Ahmad Dahlan sampai muktamar Muhammadiyah yang ke-44 di Jakarta 2000, rumusan maksud tujuan Muhammadiyah mengalami 7x perubahan redaksional, susunan bahasa dan istilah yang dipergunakan namun tidak merubah subtansi awal.

Rumusan pertama terjadi pada waktupermulaan berdirinya Muhammadiyah yang bertujuan sebagai berikut

Menyebarkan pengajaran kanjeng Nabi Muhammad SAW kepada bumi putra dan residen Yogyakarta.

Memajukan hal agama Islam kepada anggota-anggotanya.

Rumusan kedua terjadi setelah Muhammadiyah meluas ke daerah di luar Yogyakarta sehingga merubah maksud dan tujuan untuk menyesuaikan kondisi riil Muhammadiyah, yaitu

Memajukan dan menggembirakan pengajaran dan pelajaran agama islam di Hindia-Belanda.

Memajukan dan menggembirakan hidup sepanjang kemauan agama islam kepada sekutu-sekutunya.

Rumusan ketiga terjadi pada masa pendudukan Jepang yangt mengarusaklan merubah redaksional maksud dan tujuan Muhammadiyah sehingga rumusannya menjadi “Sesuai dengan kepercayaan umum mendirikan kemakmuran bersama Asia Timur Raya di bawah pimpinan Dial Nippon dan memang diperintahkan oleh Tuhan Allah” maka pertemuan ini

Hendak menyiarkan agama islam, serta melatih hidup yang selaras dengan tutunannya.

Hendak melakukan pekerjaan kebaikan umum.

Hendak memejukan pengetahuan dan mkepandaian serta budi pekerti yang baik kepada anggota-anggotanya.

Rumusan keempat terjadi setelah muktamar Muhammadiyah ke-31 di Yogyakarta tahun 1950. Adapun  rumusanya adalah “menegakkan dan menjunjung tinggi agama islam sehingga dapat mewujudkan masyarakat islam yang sebenar-benarnya”.

Rumusan kelima diubah pada muktamar Muhammadiyah ke-34 di Yogyakarta tahun 1959. Perubahan ini hanya terdapat pada kata “mewujudkan­” menjadi “terwujudnya”.

Rumusan keenam terjadi pada muktamar Muhammadiyah ke-41 di Surakarta tahun 1985. Pada tahun ini harus merubah maksud dan tujuanya dikarenakan adanya UU no.8 th 1985 tentang kewajiban setiap ormas, baik ormas agama maupun non agama untuk mencantumkan norma pancasila. Adapun rumusan maksud dan tujuannya menjadi “menegakkan dan menjunjung tinggi agama islam sehingga terwujud masyarakat utama, adil dan makmur yang diridhai Allah SWT”.

Rumusan ketujuh terjadi pada Muktamar ke-44 di Jakarta pad tahun 2000. Muktamar ini mengembalikan asas persyarikatan Muhammadiyah seperti rumusan sebelumnya. Hanya saja perubahan asas ini tidak dalam satu pasal tersendiri dalam Anggaran Dasar Muhammadiyah, melainkan dimasukan dalam pasal 1 ayat 2, yang bunyinya : Muhammadiyah adalah Gerakan Islam, Dakwah Amal Makruf Nahi Munkar, berasaskan Islam yang bersumber pada Al-Qur’an dan Al-Sunnah. Yang diswbabkan dicabutnya UU no.8 tahun 1985 oleh MPR dan ormas diperbolehkan untuk memilih asasnya asal tidak bertentangan dengan dasar Negara. Karena itu rumusan maksud dan tujuan Muhammadiyah sekarang ini sama persis dengan rumusan yang dihasilkan pada Muktamar ke-34 di Yogyakarta, yaitu menegakkan dan menjunjung tinggi agama islam sehingga dapat terewujudkan masyarakat islam yang sebenar-benarnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s